BERDAYAKAN KREATIVITAS LOKAL
BERSAMA QLAPA

 

 

 

Sayang sekali, Mas.. Baru sepuluh menit yang lalu istri saya mengantarkan pesanan payung ke Jogja. Jadi, yang tersisa hanya payung polos untuk kiriman berikutnya,” ujar Pak Harjono membuka percakapan. Sesaat kemudian, ia mulai bercerita panjang lebar tentang kerajinan payung lukis yang selama ini digelutinya.

 

Payung lukis merupakan salah satu hasil kerajinan tangan sebagian masyarakat Dusun Gebungan, Desa Kwarasan, Kecamatan Juwiring, Klaten. Dalam tiga tahun belakangan ini, industri kerajinan tangan ini memang mulai bangkit berkat bantuan dari sebuah lembaga keuangan swasta.

Menurutnya, saat ini mereka bisa memasarkan rata-rata 2.000 payung perbulannya. Bagi saya, angka ini tentu sudah cukup lumayan. Namun ternyata, jika dibandingkan dengan jumlah pemasaran pada tahun 1960-an, jumlah itu masih terbilang cukup kecil.

Ya, Pak Harjono mengisahkan, bahwa kerajinan payung lukis yang terletak di sebuah gang sempit, sekitar 24 km dari kota Klaten ini pernah berjaya di masa lalu. Bahkan menurutnya, daerah Juwiring ini sudah menjadi sentra penghasil kerajinan payung lukis sejak tahun 1800-an. Maka, tidaklah mengherankan jika kerajinan payung lukis Juwiring ini sangatlah populer di kalangan Keraton, baik Yogyakarta maupun Surakarta. Selama berpuluh-puluh tahun lamanya, payung lukis Juwiring ini selalu menjadi salah satu perlengkapan dalam Upacara Suronan serta Muludan.

Kepopuleran payung lukis Juwiring ternyata tak berhenti di situ. Menurut cerita para orang tua di daerah Juwiring, payung lukis ini ternyata juga digunakan dalam upacara keagamaan masyarakat Bali. Bahkan, saya pun sangat takjub, ketika mendengar cerita bahwa payung lukis buah tangan para pengrajin di daerah Juwiring ini juga pernah dipasarkan oleh pemerintah Indonesia ke wisatawan mancanegara, mulai Jepang, Suriname hingga Kamboja.

Namun sayang sekali, di awal tahun 1970-an, kepopuleran payung lukis Juwiring mulai meredup. Ia mulai tersisihkan karena tak mampu bersaing dengan kehadiran payung impor dari luar negeri. Puncaknya, terjadi pada tahun 1998, saat krisis moneter melanda Indonesia. Order payung lukis dalam jumlah besar yang biasa diterima oleh para pengrajin, tiba-tiba saja menurun drastis. Akhirnya, secara perlahan, pangsa pasar payung lukis pun semakin menyempit.

 

 

 

 

Mendengar kisah itu, seketika benak saya pun melayang ke masa lalu. Betapa susahnya para pengrajin payung lukis Juwiring memasarkan produk handmade-nya ketika itu, sehingga nyaris membuat semua para pengrajin beralih ke profesi lainnya. Padahal, sebenarnya payung lukis ini selain sebagai sumber mata pencaharian masyarakat, juga merupakan bagian dari budaya daerah sekaligus budaya bangsa yang seharusnya tetap lestari.

Tentu akan berbeda cerita, jika masa itu sudah ada makhluk bernama internet yang dengan mudahnya akan mempertemukan penjual dan pembeli tanpa dibatasi oleh ruang dan waktu. Ya, dengan startup digital yang ada seperti sekarang ini, kita dapat memperkenalkan dan memberdayakan berbagai kreativitas lokal melalui internet. Sebagaimana langkah besar seorang Benny Fajarai bersama teman-temannya yang mendirikan Qlapa.

Qlapa adalah mall online yang khusus digunakan untuk jual beli produk handmade unik seperti kemeja batik, tenun, tas dan sepatu kulit, dompet, perhiasan, dekorasi rumah, dan berbagai produk buatan tangan lainnya. Marketplace ini resmi diluncurkan pada tanggal 1 November 2015 silam. Pemilihan nama Qlapa sendiri konon terinspirasi dari kelapa, salah satu pohon yang tumbuh subur di Indonesia.

Apa yang kalian ketahui tentang kelapa?

Yap, semua bagian dari pohon ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia untuk berbagai keperluan. Mulai membuat ketupat, kipas sate, sapu lidi, hingga berbagai alat rumah tangga dan kerajinan lainnya. Buah kelapanya pun bisa menjadi minuman yang menyegarkan, bahkan kerap juga digunakan sebagai obat.

 

 

 

 

Nah, sebagaimana seluruh bagian dari pohon kelapa mulai akar hingga setiap helai daunnya yang memberi kemanfaatan, semua stakeholder tentu sangat berharap agar keberadaan Qlapa ini dapat sepenuhnya bermanfaat bagi para pengrajin serta masyarakat yang akan mencari barang-barang hasil kerajinan tangan. 

Dari segi usia, Qlapa memang startup digital yang relatif masih cukup muda. Namun, marketplace ini memiliki komitmen yang kuat untuk memberdayakan kreativitas lokal dengan teknologi yang ada. Hal tersebut tampak sekali dari nilai-nilai yang dikembangkan oleh Qlapa, yaitu transparansi, kualitas, dan kebersamaan.

Transparansi

Kualitas

Kebersamaan

Dengan nilai-nilai itu, maka Qlapa pun kini menjelma menjadi rumahnya produk handmade Indonesia. Ya, saat ini Qlapa telah memiliki ribuan produk kerajinan tangan dari ratusan pengrajin yang tersebar di seluruh di Indonesia.

Tak bisa dipungkiri, keberadaan Qlapa memang bermanfaat bagi pengrajin dan pembeli. Dengan menawarkan produk handmade-nya di Qlapa, para pengrajin seperti Pak Harjono kini tak perlu lagi khawatir akan kehilangan omsetnya, karena hasil kreativitas mereka akan dikenal oleh masyarakat luas tanpa terbatas tempat dan waktu. Sedangkan bagi kita sebagai pembeli, dengan keberadaan Qlapa, kita juga akan mendapat banyak keuntungan. Apa saja?

Kemudahan

Cukup dengan mengakses qlapa.com ataupun melalui aplikasi Qlapa, kita dapat dengan mudah mencari dan membeli handmade dari pengrajin di seluruh Indonesia.

Kelengkapan

Dengan Qlapa, kita dapat memilih ribuan produk handmade yang tertata rapi dalam berbagai kategori, baik di website maupun aplikasinya.

Kualitas

Tim Qlapa selalu melakukan kurasi satu-persatu terhadap produk yang dijual di situsnya, sehingga memastikan pembeli mendapatkan kerajinan tangan yang berkualitas.

Keamanan

Qlapa menjamin keamanan transaksi antara penjual dan pembeli. Jika transaksi batal sebelum produk dikirim, maka uang pembeli akan dikembalikan 100%.

Kenyamanan

Selain harga yang terjangkau, dengan membeli langsung dari pembuatnya, kita juga akan merasa mudah dan nyaman untuk meng-custom produk yang akan kita pesan.

 

 

 

Sepatu kulit ini sudah masuk keranjang..

Nah, itulah 5K keuntungan yang akan didapatkan ketika kita mencari dan membeli produk-produk handmade dengan Qlapa. 5K itu jugalah yang mendorong saya untuk mencari dan membeli sepatu kulit handmade dari pengrajin sepatu dari Garut, Jawa Barat. Selama ini, saya pribadi memang selalu mengutamakan produk lokal saat mencari barang untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk kebutuhan berupa sepatu.

Bagi saya, saat minat masyarakat terhadap produk kreativitas lokal meningkat, maka akan muncul demand dari produk kerajinan tangan yang dihasilkan oleh para pengrajin. Pada akhirnya, akan terciptalah sebuah proses supply chain yang berkelanjutan untuk memberdayakan dan melestarikan kreativitas lokal masyarakat Indonesia.

Yuk, cintai produk lokal dan berdayakan kreativitas lokal bersama Qlapa!

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog #CintaProdukLokal Bersama Qlapa.com