Di sebuah halaman rumah yang luas, beberapa payung lukis setengah jadi tampak berjajar untuk dijemur. Di sampingnya, terlihat beberapa bilah-bilah bambu yang siap untuk disulap menjadi jeruji-jeruji payung. Sementara di teras rumahnya, beberapa tumpukan payung polos dan puluhan kaleng cat terlihat berserakan menghiasi lantai. Pak Harjono, demikian pemilik rumah itu kerap disapa. Ia adalah pengrajin generasi ketiga yang tinggal di Kwarasan, salah satu kampung penghasil kerajinan payung di Kecamatan Juwiring, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.

“Sayang sekali, Mas! Baru sepuluh menit yang lalu istri saya mengantarkan pesanan payung ke Jogja. Jadi, yang tersisa hanya payung polos untuk kiriman berikutnya,” tuturnya membuka percakapan. Untuk sesaat kemudian ia pun mulai bercerita tentang lika-liku perjalanan panjang kerajinan payung lukis, payung hias dari kain atau kertas yang bergambar bunga warna-warni.

Menurut Pak Harjono, kerajinan payung lukis di Kwarasan, Juwiring ini pernah berjaya di masa lalu. Bahkan, menurut catatan sejarah, daerah Juwiring ini sudah menjadi pusat industri kerajinan payung lukis sejak tahun 1800-an.

Konon, menurut cerita para orang tua di daerah Juwiring, hampir seluruh penduduk di enam dukuh di desa Kwarasan saat itu berprofesi sebagai pengrajin payung. Hasil kerajinan payung lukis dari para pengrajin di desa ini, kemudian ditampung oleh Pinda Aneka, lembaga semacam koperasi. Tercatat, selama kurun waktu 1960-1970, lembaga ini mampu memasarkan rata-rata 40 ribu payung perbulannya. Maka, tidaklah mengherankan jika payung lukis ini kemudian menjadi sandaran hidup bagi lebih dari 400 kepala keluarga di Desa Kwarasan ketika itu.Namun amat disayangkan, di awal tahun 1970-an, kejayaan payung lukis Juwiring mulai meredup, karena tak mampu bersaing dengan kehadiran payung impor dari luar negeri. Puncak terpuruknya usaha kerajinan payung lukis, terjadi saat krisis moneter melanda Indonesia di tahun 1998.

Pesanan payung lukis yang biasanya diterima para pengrajin dalam jumlah besar, tiba-tiba saja menurun drastis. Secara perlahan, pangsa pasar payung lukis Juwiring pun semakin menyempit. Hingga akhirnya, karena tuntutan kebutuhan hidup, nyaris semua pengrajin pun beralih ke profesi lainnya.

Pak Harjono menuturkan,  bahwa masyarakat desa yang masih berprofesi sebagai pengrajin payung pada awal tahun 2015 kemarin hanya tersisa 11 orang saja. Jika ditambah dengan pembuat rangka atau jeruji payung, tercatat hanya ada sekitar 50 orang saja yang masih setia menekuni kerajinan payung lukis.

Tentu, amat disayangkan. Mengingat, payung lukis Juwiring ini selain sebagai sandaran hidup masyarakat, juga merupakan salah satu kreativitas lokal yang seharusnya bisa tetap lestari. Gagalnya regenerasi pengrajin payung serta keterbatasan modal disinyalir menjadi salah satu permasalahan dalam upaya mengembangkan kembali usaha kerajinan payung di daerah Juwiring ini.

Bersyukur sekali, di tengah keterpurukan itu masih ada pihak-pihak yang masih peduli terhadap aktivitas perekonomian para pengrajin payung lukis Juwiring ini. Adalah Dompet Dhuafa Republika yang sejak 17 Juni 2015 yang lalu meneken kerjasama Program Pemberdayaan Pengrajin Payung Lukis dengan PT. Asuransi Astra Buana melalui salah satu produknya, yaitu Asuransi Astra Syariah.

Penandatanganan kerjasama Program Pemberdayaan Pengrajin Payung Lukis tersebut adalah salah satu kegiatan untuk menyalurkan dana zakat dari Dompet Dhuafa serta dana sosial dari peserta Asuransi Astra Syariah. Tujuannya, tak lain tak bukan adalah untuk memberikan kontribusi nyata kepada para pengrajin payung lukis, khususnya yang ada di Juwiring, Klaten, Jawa Tengah.

Image Source: autocarindonesia.com

Program pemberdayaan itu sendiri diluncurkan di Juwiring kira-kira dua bulan sesudahnya, yakni pada tanggal 15 September 2015. Dalam kegiatan tersebut, 25 orang pengrajin payung lukis di Juwiring mendapat bantuan modal usaha dari Dompet Dhuafa dan Asuransi Astra Syariah sebesar Rp.392.550.000. Melalui modal berupa dana tersebut, diharapkan kapasitas produksi pengrajin payung lukis di Juwiring bisa meningkat.

Tak hanya bantuan modal, melalui Program Pemberdayaan Payung Lukis ini, para pengrajin juga mendapatkan pendampingan, pelatihan, serta penguatan usaha. Tujuannya, adalah agar payung lukis hasil karya mereka mampu berdaya saing, sehingga muncul demand dari produk yang mereka hasilkan. Dengan begitu, maka akan tercipta sebuah proses supply chain yang berkelanjutan untuk menjaga kreativitas lokal masyarakat.

Program Pemberdayaan Payung Lukis ini merupakan satu di antara ratusan program pemberdayaan yang digulirkan Dompet Dhuafa dalam rangka menyelesaikan berbagai persoalan ekonomi dan sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Tercatat, sejak tahun 2000 Dompet Dhuafa telah menjangkau komunitas-komunitas yang ada di pedesaan dan perkotaan, serta wilayah pasca bencana hampir di seluruh wilayah Indonesia dengan dana zakat yang dikumpulkannya.

Image Source: autocarindonesia.com

Bagi saya, pengelolaan dana zakat untuk program-program pemberdayaan semacam Program Pemberdayaan Payung Lukis ini sangatlah menarik. Bagaimana tidak, pengelolaan zakat sebagaimana yang dilakukan oleh Dompet Dhuafa ini ternyata selaras dengan pengelolaan zakat yang pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW. Ya, kita tentu masih ingat jika pada zaman Rasulullah SAW dulu, penggunaan dana zakat, salah satunya adalah untuk pengembangan ekonomi masyarakat.

Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Salim bin Abdillah bin Umar. Dikatakan oleh Salim, bahwa Rasulullah SAW telah memberikan zakat kepadanya, lalu menyuruhnya untuk dikembangkan atau disedekahkan lagi. Kemudian Salim pun mengelolanya hingga ia mampu memberikan sedekah dari usaha tersebut. Inilah teladan Rasulullah tentang bagaimana mengelola zakat sehingga menjadi sesuatu yang produktif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Berawal dari zakat, usaha mereka kembali berkembang pesat. Begitulah kalimat yang tepat untuk menggambarkan peran dana zakat untuk pemberdayaan masyarakat. Terbukti, lebih dari dua tahun sejak program itu digulirkan, saat ini Pak Harjono dan dan teman-temannya bisa mengembangkan senyum kembali.

Bagaimana tidak, paling sedikit saat ini mereka mendapat pesanan 2.000 payung lukis perbulannya. Senyum bahagia Pak Harjono dan para pengrajin payung Juwiring itu juga menjadi bukti bahwa zakat memang mampu menjadi stimulant bagi pertumbuhan perekonomian masyarakat, baik secara mikro maupun makro.

Bangkitnya kembali usaha kerajinan payung lukis Juwiring setelah sekian lama mati suri juga menjadi satu bagian dari perjalanan 25 tahun Dompet Dhuafa dalam membentang kebaikan bersama masyarakat luas yang menjadi muzakki. Ya, selama 25 tahun ini, melalui pengelolaan zakat yang profesional, Dompet Dhuafa telah mampu berkiprah dalam memberdayakan kaum dhuafa yang jumlahnya di Indonesia masih terbilang banyak. Termasuk mereka, Pak Harjono dan para pengrajin payung lukis di Juwiring, Klaten, Jawa Tengah.

Yuk, ikut serta membentang kebaikan bersama Dompet Dhuafa!

*Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Blog Berawal Dari Zakat, #25thnMembentangKebaikan yang diselenggarakan oleh Dompet Dhuafa cek info lomba di donasi.dompetdhuafa.org/lombablog

Share This